deweyshouse.com – Permainan “Coffee Talk” kini hadir dengan edisi baru yang mengambil latar Tokyo, menjauh dari Seattle yang terkenal dengan keberagaman dan masalah sosialnya. Dalam versi terbaru ini, pemain tetap berperan sebagai barista yang melayani karakter magis Jepang seperti kappa dan yuki-onna. Namun, kritik muncul karena sejauh ini, permainan ini dinilai tidak mendalami isu-isu sosial yang cukup signifikan di Jepang.
Meskipun karakter dalam game berbicara dalam bahasa Inggris dengan menyisipkan istilah Jepang, hal tersebut terasa lebih sebagai hiasan budaya ketimbang usaha untuk merepresentasikan bahasa dan nuansa lokal. Sosok kappa bernama Kenji, yang mencerminkan stereotip pekerja keras dalam masyarakat Jepang, dihadapkan pada realitas stres dan tekanan kerja, tetapi tema tersebut dilewatkan tanpa eksplorasi mendalam.
Beberapa elemen sosial, seperti tingginya angka kelebihan jam kerja di Jepang, tidak diangkat dengan serius. Alih-alih, permainan ini cenderung mengabaikan realitas tersebut demi menciptakan suasana yang lebih ringan dan menari. Beberapa berita lokal yang muncul di antara level-level permainan sempat menyinggung isu sosial, seperti pembentukan partai politik baru untuk kesejahteraan masyarakat lanjut usia. Namun, narasi tersebut tidak dikembangkan lebih lanjut di dalam dialog karakter.
Dengan fokus pada gambaran idealis Jepang yang lebih terlihat dalam budaya pop, “Coffee Talk Tokyo” tampaknya lebih tertarik pada estetika ketimbang pada realita. Karya ini berupaya menarik perhatian dengan nuansa Jepang yang dikerumuni oleh masalah, tetapi tetap menahan diri dari menggali isu yang lebih dalam dan kompleks, menyerupai perspektif luar yang sering terlihat pada kebudayaan asing terhadap Jepang.