deweyshouse.com – Film terbaru dari adaptasi novel klasik H.G. Wells, The War of the Worlds, yang dirilis pada 2025, sedang menjadi perbincangan luas karena dianggap sebagai salah satu film terburuk abad ke-21. Adaptasi ini mengusung konsep “screenlife,” yang mengecewakan banyak penggemar. Meskipun film ini berusaha menawarkan pengalaman yang unik, kritik mengungkapkan bahwa keputusan kreatif yang diambil terasa tidak masuk akal, bahkan menjadikannya promosi untuk layanan pengiriman drone Amazon di bagian akhir.
Film ini menjadi penutup yang aneh bagi sejarah panjang The War of the Worlds, yang telah berusia 128 tahun dan memiliki berbagai versi lainnya, termasuk karya Orson Welles dan Steven Spielberg. Karya asli Wells, yang diterbitkan pada 1898, berhasil mengukuhkan konsep invasi alien dalam budaya populer. Adaptasi radio Welles pada tahun 1938, yang menimbulkan kepanikan di kalangan pendengarnya, masih diingat sebagai salah satu yang paling terkenal.
Adaptasi pertama dalam bentuk film muncul pada tahun 1953, yang disutradarai oleh Byron Haskin dan dibintangi Gene Barry serta Ann Robinson. Film ini memindahkan lokasi cerita dari Inggris 1890-an ke California 1950-an, dengan alur yang lebih cepat dan kondisi perang yang lebih mendesak. Meskipun efek khusus pada masa itu dianggap canggih, kini banyak yang merasa tampilan tersebut sudah kuno.
Cerita mengikuti Dr. Clayton Forrester, seorang ilmuwan yang menyaksikan jatuhnya meteor aneh, yang kemudian terungkap sebagai pesawat alien dari Mars. Ketegangan semakin meningkat saat makhluk alien mulai menyerang manusia secara brutal. Momen-momen ini memberikan nuansa horor yang kuat, dan menjadikan The War of the Worlds sebagai salah satu karya klasik dalam genre sci-fi dan horor, meski saat ini terlihat kuno.