deweyshouse.com – Adaptasi sastra fantasi untuk layar tidaklah mudah, seperti yang terlihat pada Netflix dengan “The Witcher” dan HBO dengan “Game of Thrones”. Petunjuk kompromi yang diperlukan untuk mengalihkan cerita ke medium lain sering kali sulit dijalani, dan baru-baru ini tampaknya banyak penulis naskah dan produser yang kesulitan menyeimbangkan aspek tersebut. Sementara itu, 25 tahun setelah penayangannya, karya Peter Jackson, “The Lord of the Rings”, kembali ke bioskop dengan kesuksesan besar, menunjukkan bahwa kesetiaan pada materi sumber tidak selalu identik dengan akurasi.
Membaca ulang “The Fellowship of the Ring” setelah sekian lama, penulis merasakan pengaruh kuat dari film yang menjadikan pengalaman membaca seolah baru kembali. Salah satu momen paling krusial adalah Dewan Elrond, di mana Frodo, sebagai pemilik Cincin, menghadapi pilihan untuk membawa beban tersebut ke Gunung Doom. Dalam film, pernyataan berani Frodo untuk mengambil tanggung jawab dihormati oleh anggota Persekutuan, tetapi dalam buku, mereka tidak bersumpah secara resmi. Ini menunjukkan pandangan Tolkien bahwa tidak ada pahlawan yang sempurna dan ada momen keraguan dalam setiap pilihan.
Meskipun ada perbedaan signifikan antara film dan buku, perubahan tersebut tidak menghancurkan esensi cerita asli. Bahkan, banyak penggemar, termasuk yang ketat terhadap Tolkien, menikmati adaptasi ini karena tetap mempertahankan tema sentral tentang kebaikan dan pilihan moral. Investasi emosi dalam karakter dan cerita berhasil menjaga daya tariknya selama bertahun-tahun. Dengan banyaknya penonton yang kembali ke bioskop, jelas bahwa trilogi ini tetap relevan, menunjukkan bahwa kesuksesan sebuah adaptasi tidak hanya diukur dari ketepatan, tetapi juga dari kemampuan untuk merefleksikan inti dari karya asli.