deweyshouse.com – Film “Avatar: Fire and Ash” dan “Hamnet” menampilkan pendekatan yang berbeda, namun sama-sama menyoroti drama kemanusiaan. “Fire and Ash”, sekuel ketiga dari seri Avatar, dipimpin oleh James Cameron dan mengisahkan petualangan fantastis dengan elemen sains fiksi. Di sisi lain, Chloé Zhao berkolaborasi dengan penulis Maggie O’Farrell untuk mendalami kehilangan dalam film “Hamnet”, yang diadaptasi dari novel terkenal, menunjukkan bagaimana tragedi mendorong lahirnya karya monumental, “Hamlet”.
Cameron, yang telah lama dikenal sebagai inovator di industri film, terus menekuni visi dirinya melalui franchise Avatar. Ia merencanakan keseluruhan trilogi setelah kesuksesan film pertama pada tahun 2009. Sementara Zhao, yang dikenal dengan bakatnya dalam menangkap emosi manusia, menghadirkan nuansa puitis melalui kisah cinta antara William Shakespeare dan Agnes dalam “Hamnet”.
Meski “Fire and Ash” dikenal dengan efek visual yang megah, drama mendalam dalam “Hamnet” menawarkan eksplorasi emosional yang bisa menyentuh hati penonton. Zhao menyampaikan pengalaman tragis dari kehilangan, menghidupkan karakter dengan kejujuran dan keintiman.
Cameron mengungkapkan bahwa ia tidak akan terus-menerus terjebak dalam dunia Avatar dan berusaha untuk mengeksplorasi cerita lainnya. Dengan keduanya memiliki pendekatan yang berbeda, potensi kolaborasi di masa depan tetap mungkin. Jika suatu saat Cameron memilih untuk mundur, Zhao diperkirakan menjadi pengganti yang layak, berkat kemampuannya dalam menghasilkan karya yang menyentuh.
Dengan keberadaan dua film yang beragam ini, penonton dapat melihat perbedaan gaya bercerita yang dihasilkan oleh kedua sutradara berbakat, sekaligus menantikan karya-karya selanjutnya dalam industri perfilman.